Senin, 15 Mei 2017

Filsafat Islam Ibnu Bajjah dan Ibnu Thufail




















NAMA   : AGUNG WIBOWO
NIM       : 933507815
PRODI   : KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM

Filsafat Islam Ibnu Bajjah dan Ibnu Thufail
BIOGRAFI IBNU BAJJAH
               Ibnu bajjah mempunyai nama asli yaitu Abu Bakar Muhammad Ibn Yahya al-Sha’igh. Ia lahir di Saragosa (spanyol). Tanggal dan tahun kelahirannya tidak diketahui dan beliau wafat pada tahun 533 H/1138 M. Ibnu bajjah sebenarnya bukan hanya seorang filosof,namun ia juga menguasai banyak keahlian, seperti ilmu kedokteran, astronomi, fisika, matematika, bahkan juga musik.
KARYA-KARYA IBNU BAJJAH
                Bagi saya sendiri karya Ibnu Bajjah yang cukup saya sukai ialah kitab Tadbir al-Mutawabbid, dan kitab ini juga menjadi kitab paling populer diantara karya-karya tulisannya yang lain. Menurut pandangan pribadi saya walaupun Ibnu bajjah seorang Muslim, namun kalau dilihat dari karyanya ini  (Tadbir al-Mutawabbid) ia tidak berbicara tentang agamanya sendiri, tapi juga agama agama lain atau seluruh umat manusia.
              Buku ini berisikan usaha-usaha individu menjauhkan diri dari segala macam keburukan-keburukan dalam masyarakat dan negara yang ia sebut sebagai Insan Muwabbid  atau manusia penyendiri, ini yang menurut saya sedikit mirip dengan ajaran umat budha dimana dalam agama tersebut juga diajarkan tentang mencari pegangan hidup, untuk menuju kehidupan yang sejahtera.


PEMIKIRAN IBNU BAJJAH
              Ibnu bajjah ialah seorang filosof yang multi talenta, karena itula ia ahli menyandarkan ilmu-ilmunya pada teori dan praktek ilmu-ilmu matematika, astronomi, musik, kedokteran dan lain lain. Pemikiran Ibnu bajjah sendiri sangat bertolak belakang dengan teori ilham al-Ghazali, dan saya sendiri pun juga lebih condong kepada pemikiran dari Ibnu bajjah, dimana pemikirannya sudah saya jelaskan diatas yang terletak di kitabnya Tadbir al-Mutawabbid.
               Ibnu bajjah juga mengagumi filsafat Aristoteles, namun walaupun ia sejalur dengan filsafat Aristoteles, hebatnya ia tidak pernah lari dari ajaran islam, menurut ia Allah tidak hanya bergerak, tapi juga Azali dan gerakannya bersifat tidak terbatas.
IBNU THUFAIL
        Setelah membahas tentang berbagai hal dari filosof serba bisa Ibnu Bajjah, selanjutnya saya akan berbagi sedikit informasi tentang filosof lainnya yang tidak kalah pintar yaitu Ibnu Thufail, dan berikut penjelasannya.
BIOGRAFI IBNU THUFAIL
          Berbeda dengan Ibnu bajjah yang nama aslinya sangat berbeda, Ibnu thufail mempunya nama lengkap yang cukup panjang yaitu Abu Bakar Muhammad Ibnu ‘Abd Al-Malik Ibnu Muhammad Ibnu Thufail. Ia lahir di Cadix, Provinsi Granada, Spanyol pada tahun 506 H/1110 M. Ia termasuk dalam suku Arab terkemuka, Qais. Ibnu Thufail pernah belajar filsafat dengan Ibnu Bajjah, dan belajar hadish dan fiqh pada Abu Muhammad Ar-Rasyathi.
          Penguasaan ia terhadap ilmu-ilmu yang Ibnu Thufail dapatkan ia pelajari sendiri secara otodidak dan pelan-pelan dengan tekun dan tidak lupa ia juga mencatatnya, Ibnu Thufail awalnya berkarir sebagai dokter praktik di Granada dan lewat ketenarannya dalam jabatan itu, ia diangkat sebagai sekretaris Gubernur di Provinsi tersebut.


KARYA-KARYA IBNU THUFAIL
  (Fi Al-Buqa’ Al-Maskunah wal-Ghair Al-Masjunah)
 ( Hayy Ibnu Yaqzan)
            Buku ini  ( Hayy Ibnu Yaqzan)  menurut saya sangat menarik karena dalam ceritanya mengisahkan seorang bayi laki-laki yang terdampar dipulau terpencil dan diasuh oleh seekor rusa yang baru saja kehilangan bayi, namun saat bayi ini tumbuh dewasa ia bisa bernalar bahwa adanya tuhan, saya fikir maksud dari buku tersebut ialah akal manusia yang tanpa bimbingan wahyu mampu mencapai kebenaran tentang dunia serta Tuhan. Untuk lebih jelasnya saya akan mengulas sedikit tentang isi dari buku tersebut.
         Bayi tersebut bernama Hayy Ibnu Yaqzan, bayi yang dibuang kelautan oleh orang tuanya itu terdampar disebuah pulau, dan disusukan dan dirawat  oleh seekor rusa, walaupun hidup dilingkungan binatang, bayi ini dapat terus hidup dengan baik menjadi manusia dewasa dan membuatnya berbeda dengan binatang. Akal sehatnya berkembang sedemikian rupa, bahkan menurut sinnatullah, ia dapat merasakan adanya Tuhan dan merasa dekat kepada-Nya. Tidak jauh dari pulau itu terdapat pulau lain yang dihuni manusia. Nama kedua pulau itu bernama Absal dan Salaman. Dalam kehidupannya Hayy Ibnu Yaqzan belajar dari kejadian-kejadian alam, ia melihat seekor kijang yang semakin tua dan melemah hingga akhirnya mati, dan dari situlah ia mengambil hikmah bahwa sesungguhnya itulah kehidupan. Dari kehidupan tentunya ada sang penguasa, maka dari situlah ia berkeyakinan akan adanya Tuhan yang menentukan hidup atau mati semua makhluk.
PEMIKIRAN IBNU THUFAIL
         Berbeda dengan para filosof lainnya, pemikiran ibnu thufail tentang filsafat cenderung bercorak, yaitu bercorak Neoplatonik dan bercorak Platonik. Filsafat dari ibnu thufail ini lebih menekankan pada idealisme atau juga rasionalisme.
         Sebagai contoh filosof yang bercorak neoplatonis, dalam corak ini selalu mempunyai ciri-ciri utama yaitu sangat gencar untuk menjembatani antara filsafat dengan mistisisme, seperti antara akal dengan wahyu (agama), antara realitas dengan idealitas, antara fenomena dengan nomena, antara yang fisik dengan metafisik, antara yang fana dengan yang baka, antara syariat dengan ma’rifat bahkan antara yang mawjudat dengan wajibul wujud.
         Ibnu thufail juga selalu menggunakan simbol-simbol atau metode-metode khusus dalam memaparkan pandangan filsafatnya dalam bentuk kisah filsafat, hal inilah yang menurut saya filsafatnya menjadi mudah dipahami karena berbentuk cerita dan juga cukup terperinci penjelasannya.
       Baiklah bapak-bapak dan ibuk-ibuk sekalian yang di Rahmati Allah sekian sedikit ulasan tentang Ibnu Bajjah dan juga Ibnu Thufail yang refrensinya saya ambil dari buku Dosen filsafat saya DR. Limas Dodi, M.Hum. Kurang lebihnya mohon dimaklumi,  jangan lupa kritik dan sarannya ya teman-teman, okelah kalau begitu sekian dari saya dan terima kasih.


6 komentar: