NAMA : AGUNG WIBOWO
NIM : 933507815
PRODI : KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM
Filsafat Islam Ibnu Bajjah dan Ibnu Thufail
BIOGRAFI
IBNU BAJJAH
Ibnu bajjah mempunyai nama asli yaitu
Abu Bakar Muhammad Ibn Yahya al-Sha’igh. Ia lahir di Saragosa (spanyol).
Tanggal dan tahun kelahirannya tidak diketahui dan beliau wafat pada tahun 533
H/1138 M. Ibnu bajjah sebenarnya bukan hanya seorang filosof,namun ia juga
menguasai banyak keahlian, seperti ilmu kedokteran, astronomi, fisika,
matematika, bahkan juga musik.
KARYA-KARYA IBNU BAJJAH
Bagi saya sendiri karya Ibnu
Bajjah yang cukup saya sukai ialah kitab Tadbir
al-Mutawabbid, dan kitab ini juga menjadi kitab paling populer diantara
karya-karya tulisannya yang lain. Menurut pandangan pribadi saya walaupun Ibnu
bajjah seorang Muslim, namun kalau dilihat dari karyanya ini (Tadbir
al-Mutawabbid) ia tidak berbicara tentang agamanya sendiri, tapi juga agama
agama lain atau seluruh umat manusia.
Buku ini berisikan usaha-usaha
individu menjauhkan diri dari segala macam keburukan-keburukan dalam masyarakat
dan negara yang ia sebut sebagai Insan
Muwabbid atau manusia penyendiri,
ini yang menurut saya sedikit mirip dengan ajaran umat budha dimana dalam agama
tersebut juga diajarkan tentang mencari pegangan hidup, untuk menuju kehidupan
yang sejahtera.
PEMIKIRAN IBNU BAJJAH
Ibnu bajjah ialah seorang filosof
yang multi talenta, karena itula ia ahli menyandarkan ilmu-ilmunya pada teori
dan praktek ilmu-ilmu matematika, astronomi, musik, kedokteran dan lain lain.
Pemikiran Ibnu bajjah sendiri sangat bertolak belakang dengan teori ilham
al-Ghazali, dan saya sendiri pun juga lebih condong kepada pemikiran dari Ibnu
bajjah, dimana pemikirannya sudah saya jelaskan diatas yang terletak di
kitabnya Tadbir al-Mutawabbid.
Ibnu bajjah juga mengagumi
filsafat Aristoteles, namun walaupun ia sejalur dengan filsafat Aristoteles,
hebatnya ia tidak pernah lari dari ajaran islam, menurut ia Allah tidak hanya
bergerak, tapi juga Azali dan gerakannya bersifat tidak terbatas.
IBNU THUFAIL
Setelah membahas tentang berbagai hal
dari filosof serba bisa Ibnu Bajjah, selanjutnya saya akan berbagi sedikit
informasi tentang filosof lainnya yang tidak kalah pintar yaitu Ibnu Thufail,
dan berikut penjelasannya.
BIOGRAFI IBNU THUFAIL
Berbeda dengan Ibnu bajjah yang nama
aslinya sangat berbeda, Ibnu thufail mempunya nama lengkap yang cukup panjang
yaitu Abu Bakar Muhammad Ibnu ‘Abd Al-Malik Ibnu Muhammad Ibnu Thufail. Ia
lahir di Cadix, Provinsi Granada, Spanyol pada tahun 506 H/1110 M. Ia termasuk
dalam suku Arab terkemuka, Qais. Ibnu Thufail pernah belajar filsafat dengan
Ibnu Bajjah, dan belajar hadish dan fiqh pada Abu Muhammad Ar-Rasyathi.
Penguasaan ia terhadap ilmu-ilmu yang
Ibnu Thufail dapatkan ia pelajari sendiri secara otodidak dan pelan-pelan
dengan tekun dan tidak lupa ia juga mencatatnya, Ibnu Thufail awalnya berkarir
sebagai dokter praktik di Granada dan lewat ketenarannya dalam jabatan itu, ia
diangkat sebagai sekretaris Gubernur di Provinsi tersebut.
KARYA-KARYA IBNU THUFAIL
(Fi
Al-Buqa’ Al-Maskunah wal-Ghair Al-Masjunah)
( Hayy
Ibnu Yaqzan)
Buku ini ( Hayy
Ibnu Yaqzan) menurut saya sangat
menarik karena dalam ceritanya mengisahkan seorang bayi laki-laki yang
terdampar dipulau terpencil dan diasuh oleh seekor rusa yang baru saja
kehilangan bayi, namun saat bayi ini tumbuh dewasa ia bisa bernalar bahwa
adanya tuhan, saya fikir maksud dari buku tersebut ialah akal manusia yang
tanpa bimbingan wahyu mampu mencapai kebenaran tentang dunia serta Tuhan. Untuk
lebih jelasnya saya akan mengulas sedikit tentang isi dari buku tersebut.
Bayi tersebut bernama Hayy Ibnu
Yaqzan, bayi yang dibuang kelautan oleh orang tuanya itu terdampar disebuah
pulau, dan disusukan dan dirawat oleh
seekor rusa, walaupun hidup dilingkungan binatang, bayi ini dapat terus hidup
dengan baik menjadi manusia dewasa dan membuatnya berbeda dengan binatang. Akal
sehatnya berkembang sedemikian rupa, bahkan menurut sinnatullah, ia dapat
merasakan adanya Tuhan dan merasa dekat kepada-Nya. Tidak jauh dari pulau itu
terdapat pulau lain yang dihuni manusia. Nama kedua pulau itu bernama Absal dan
Salaman. Dalam kehidupannya Hayy Ibnu Yaqzan belajar dari kejadian-kejadian
alam, ia melihat seekor kijang yang semakin tua dan melemah hingga akhirnya
mati, dan dari situlah ia mengambil hikmah bahwa sesungguhnya itulah kehidupan.
Dari kehidupan tentunya ada sang penguasa, maka dari situlah ia berkeyakinan
akan adanya Tuhan yang menentukan hidup atau mati semua makhluk.
PEMIKIRAN IBNU THUFAIL
Berbeda dengan para filosof lainnya,
pemikiran ibnu thufail tentang filsafat cenderung bercorak, yaitu bercorak
Neoplatonik dan bercorak Platonik. Filsafat dari ibnu thufail ini lebih
menekankan pada idealisme atau juga rasionalisme.
Sebagai contoh filosof yang bercorak
neoplatonis, dalam corak ini selalu mempunyai ciri-ciri utama yaitu sangat
gencar untuk menjembatani antara filsafat dengan mistisisme, seperti antara
akal dengan wahyu (agama), antara realitas dengan idealitas, antara fenomena
dengan nomena, antara yang fisik dengan metafisik, antara yang fana dengan yang
baka, antara syariat dengan ma’rifat bahkan antara yang mawjudat dengan wajibul
wujud.
Ibnu thufail juga selalu menggunakan
simbol-simbol atau metode-metode khusus dalam memaparkan pandangan filsafatnya
dalam bentuk kisah filsafat, hal inilah yang menurut saya filsafatnya menjadi
mudah dipahami karena berbentuk cerita dan juga cukup terperinci penjelasannya.
Baiklah bapak-bapak dan ibuk-ibuk
sekalian yang di Rahmati Allah sekian sedikit ulasan tentang Ibnu Bajjah dan
juga Ibnu Thufail yang refrensinya saya ambil dari buku Dosen filsafat saya DR.
Limas Dodi, M.Hum. Kurang lebihnya mohon dimaklumi, jangan lupa kritik dan sarannya ya
teman-teman, okelah kalau begitu sekian dari saya dan terima kasih.